Sinusitis Kronis Bisa Picu Depresi dan Kecemasan, Segera Cari Solusinya di Klinik Arfa

Sinusitis kronis berhubungan dengan depresi dan kecemasan
29Mar, 2019

JAKARTA — Sinusitis ternyata tak berdiri sendiri. Sebuah penelitian terbaru membuktikan depresi dan kecemasan berkaitan erat dengan masalah kesehatan di sekitar wajah, saluran pernafasan dan dahi ini.

Para peneliti dari Korea menemukan bahwa orang-orang yang menderita kelainan sinusitis kronis cenderung lebih mudah mengidap depresi dan kecemasan.

Para peneliti berfokus pada rhinosinusitis kronis, yang terjadi ketika rongga di sekitar saluran hidung meradang dan bengkak selama setidaknya 12 pekan. Gejalanya dapat berupa nyeri wajah dan sakit kepala, sumbatan hidung, dan indra penciuman.

Kondisi ini telah lama diperkirakan oleh para dokter. Sinusitis kronis memang terbukti menurunkan kualitas hidup dan bisa berdampak pula pada masalah fisik secara keseluruhan, sosial, emosional dan fungsi kognitif penderita. Hasil penelitian ini dipublikasikan di JAMA Otolaryngology Head & Neck Surgery.

PENELITIAN SELAMA 12 TAHUN

Meskipun depresi dan kecemasan umumnya menyertai rhinosinusitis kronis, tidak jelas apakah masalah kesehatan mental mendahului atau mengikuti masalah sinus. Lebih dari 15 persen orang dewasa pernah menderita rhinosinusitis kronis sekali seumur hidupnya.

Penelitian terbaru itu berfokus pada 16.224 pasien rhinosinusitis yang ditangani sejak tahun 2002 hingga 2013 dengan kelompok pembanding 34.448 orang tanpa masalah sinusitis. Tak satupun dari mereka yang punya riwayat depresi atau kecemasan.

Setelah diikuti selama 11 tahun, pasien dengan sinusitis kronis lebih mungkin 50 persen mengalami depresi dan kecemasan.

“Meskipun menerima perawatan medis dan bedah yang optimal, beberapa pasien dengan rhinosinusitis kronis telah menunjukkan gejala yang persisten, yang membuat kondisi ini sulit untuk ditangani,” kata penulis studi senior Dr. Dong-Kyu Kim dari Hallym University College of Medicine di Chuncheon, Korea Selatan.

Setiap orang dengan sinusitis dalam penelitian ini telah menderita kondisi tersebut selama setidaknya 12 minggu ketika mereka didiagnosis. Sejumlah peserta – 5.461 pasien – memiliki polip hidung, atau pertumbuhan non-kanker di rongga hidung yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

Dibandingkan dengan orang tanpa masalah sinus, mereka dengan rhinosinusitis kronis dan polip hidung 41 persen lebih mungkin untuk mengalami depresi setelah masalah sinus didiagnosis dan 45 persen lebih mungkin untuk mengembangkan kecemasan, penelitian menemukan.

LEBIH BANYAK MENGALAMI KECEMASAN DIBANDING DEPRESI

Dalam penelitian itu pasien rhinosinusitis kronis tanpa polip 61 persen lebih mungkin mengidap depresi. Sementara 63 persen cenderung berisiko mengidap kecemasan (anxiety) dibanding mereka yang bukan pengidap masalah sinus.

Penelitian ini sayangnya tak bisa membuktikan apakah rhonosinusitis kronis bisa secara langsung menyebabkan kecemasan atau depresi.

Apalagi para peneliti kurang menggali latar belakang pasien subyek penelitian. Apakah mereka perokok atau peminum alkohol, dua hal yang sangat berpengaruh pada sinus sekaligus kesehatan mental.

Sangat mungkin pula peradangan dalam rhinosinusitis memicu pelepasan neurotransmitter tertentu — zat kimia yang berdampak pada fungsi otak — yang mungkin juga berkaitan dengan aspek genetik dan faktor psikis lainnya. Demikian kata Dr. Edward McCoul, direktur rhinologi dan bedah sinus di Ochsner Clinic, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.

LEBIH CEPAT PENGOBATAN DILAKUKAN LEBIH BAIK

“Pada saat ini, segala hubungan itu bersifat spekulatif perlu lebih banyak penelitian dilakukan,” kata McCoul.

“Kami tak ingin menyarankan … bahwa jika pengidap tak mengobati sinusitis mereka, lalu mereka akan mengalami kegilaan,” kata McCoul.

“Namun sinusitis kronis dalah kondisi yang kadang tak disadari oleh pengidapnya. Mereka tak sadar kondisi infeksi ini bisa berulang. Jadi segera mencari bantuan yang kompeten, mendapat diagnosis yang tepat dan mengendalikan kondisi sangatlah mendesak.”

Ayo, jangan tunda lagi. Segera hubungi Klinik Arfa untuk konsultasi gratis via WhatsApp dan membuat janji untuk bertemu dengan para dokter ahli kami. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *