Siapa Sangka Masalah Kelenjar Saliva Juga Bisa Sebabkan Nyeri Wajah?

Trigeminal Neuralgia Terapi
05Mar, 2019

kelenjar saliva tags

 

JAKARTA — Kelenjar saliva atau liur termasuk organ yang paling aktif di tubuh kita. Kelenjar ini terus menerus memproduksi liur untuk berbagai fungsi. Mulai dari melubrikasi atau membasahi mulut, membantu proses menelan hingga melindungi gigi dari bakteria dan membantu proses cerna makanan.

Kelenjar saliva ada tiga pasang di tubuh kita:

  • Kelenjar parotid di dua sisi dalam pipi.
  • Kelenjar submandibular di bagian bawah mulut.
  • Kelenjar sublingual di bawah lidah.

Sisanya ada ratusan lagi kelenjar saliva minir di seluruh mulut dan kerongkongan. Liur atau saliva mengalir ke mulut melalui semacam pipa saluran kecil yang disebut ‘duct’.

Saat ada masalah dengan kelenjar liur atau duct-nya, Anda mungkin akan merasakan gejala seperti kelenjar yang membengkak, mulut kering, nyeri, demam dan rasa tak nyaman di mulut.

Penyebab Masalah Kelenjar Saliva

Masalah kelenjar saliva sangat beragam dan efeknya terhadap fungsi saliva juga sangat beragam. Hingga bisa tersumbatnya saluran saliva, sampai duct tak bisa mengalirkan liur.

Berikut beberapa masalah pada kelenjar saliva:

  1. Batu Saliva

Atau yang dikenal juga dengan sialoliths. Penyebab utama dari pembengkakan kelenjar saliva adalah batu saliva. Batu saliva atau sialoliths terbentuk dari deposit saliva yang mengkristal.

Kadang batu saliva bisa menyumbat aliran saliva. Ketika saliva tak bisa melewati salurannya, liur akan kembali ke kelenjar dan menyebabkan nyeri serta pembengkakan. Rasa nyeri biasanya datang dan pergi dan terasa pada salah satu kelenjar saja. Tapi biasanya sifatnya progresif dan terus memburuk. Kecuali jika sumbatan dibersihkan, kondisi ini jika dibiarkan bisa menjadi infeksi di kelenjar.

2. Infeksi Kelenjar Saliva

Atau dalam dunia medis disebut sialadenitis. Infeksi bakteri di kelenjar saliva — umumnya di kelenjar parotid — juga bisa terjadi ketika duct atau saluran liur tersumbat. Sialadenitis menyebabkan bengkak dan rasa nyeri di kelenjar sekaligus nanah yang mengalir sampai ke mulut.

Sialadenitis lebih mungkin terjadi pada mereka yang berusia lanjut yang mengidap batu saliva. Tapi juga bisa terjadi pada bayi dalam beberapa minggu setelah kelahiran. Jika tak ditangani, infeksi kelenjar saliva bisa menyebabkan rasa nyeri, demam tinggi dan abses atau pengumpulan nanah di tempat sumbatan.

3. Infeksi.

Inveksi virus seperti pada penyakit gondok, flu dan lainnya bisa menyebabkan pembengkakan di kelenjar saliva juga. Pembengkakan bisa terjadi di kedua sisi kelenjar parotid di wajah, sehingga penampilan pengidap terlihat seperti cerpelai dengan pipi yang membesar.

Pembengkakan kelenjar saliva umumnya berhubungan dengan penyakit gondok, dan terjadi pada 30-40 persen infeksi gondok. Kondisi ini biasanya terjadi 48 jam setelah muncul gejala lain seperti demam dan sakit kepala.

Penyakit yang disebabkan infeksi virus lain yang menyerang kelenjar saliva, termasuk virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, Coxsackievirus,
Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Infeksi baterial biasanya membuat salah satu kelenjar membengkak. Gejala lain seperti demam dan nyeri akan mengikuti pembengkakan itu. Beberapa bakteri tertentu memang normal ditemui dalam mulut kita, misalnya saja bakteri staph. Infeksi ii sering menyerang kelenjar parotid. Faktor risiko infeksi diantaranya dehidrasi dan malnutrisi.

4. Kista.

Kista bisa terbentuk di kelenjar saliva karena cedera, infeksi, tumor atau munculnya batu saliva yang menyumbat saluran liur. Beberapa bayi lahir sudah membawa kista ini di kelenjar parotidnya karena ada masalah saat pengembangan indra telinga. Bisa muncul seperti kulit melepuh yang kecil di area tertentu. Kista akan mempengaruhi kemampuan anak untuk makan dan berbicara.

5. Tumor.

Beberapa tipe tumor yang berbeda bisa mempengaruhi kelenjar saliva. Bisa bersifat berbahaya seperti pada kanker (malignant) bisa juga jinak atau nonkanker (benign). Dua jenis tumor yang biasa ditemui adalah:

  • Pleomorphic adenomas
  • Tumor Warthin.

Pleomorphic adenomas sebagian besar mempengaruhi kelenjar parotid, tapi bisa mempengaruhi kelenjar submandibular dan kelenjar saliva minor. Tumor ini sering kali tak menimbulkan rasa sakit dan tumbuh perlahan. Pleomorphic adenomas bersifat benign (non-kanker) dan lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.

Tumor Warthin juga benign dan mempengaruhi kelenjar parotid. Tumor Warthin bisa tumbuh di kedua sisi wajah dan lebih banyak menyerang pria dibanding wanita.

Meski sebagian besar tumor kelenjar saliva bersifat benign, beberapa di antaranya bisa bersifat kanker. Tumor pada kelenjar ini yang bersifat malignant (ganas) misalnya mucoepidermoid carcinoma, adenocystic carcinoma, adenocarcinoma, kadar rendah polymorphous adenocarcinoma, dan tumor malignant campuran.

6. Sindroma Sjorgen’s

Ini adalah kondisi penyakit autoimun kronis, di mana sistem sel imun seseorang menyerang kelenjar saliva dan kelenjar lain yang memproduksi zat yang melembabkan. Akibatnya mulut dan mata jadi mengering.

Sekitar separuh dari para pengidap sindroma Sjorgen’s juga mengalami pembesaran kelenjar saliva di kedua sisi mulut yang biasanya tidak terasa sakit.

Penanganan Masalah Kelenjar Saliva Tergantung pada Sebabnya

Untuk kasus batu saliva dan penyumbatan lain di saluran liur, penanganan kadang dimulai dengan menghitung kemungkinan pembuangan batunya. Mulai dengan pengompresan hingga konsumsi permen asam untuk meningkatkan aliran saliva. Jika penanganan sederhana tak bisa menyelesaikan masalah, pembedahan mungkin dibutuhkan untuk mengangkat sumbatan pada kelenjar yang bermasalah.

Pembedahan mungkin dibutuhkan untuk mengangkat tumor baik yang benign
maupun yang malignant. Tumor yang jinak (benign) bisa tangani dengan
radiasi untuk mencegaknya kembali lagi. Beberapa tumor kanker membutuhkan radiasi dan kemoterapi. Pembedahan mungkin dibutuhkan untuk kista yang lebih besar

Beberapa masalah lain bisa diatasi dengan obat-obatan. Sebagai contoh, infeksi bakteri bisa ditangani dengan antibiotik. Obat-obatan juga bisa diresepkan untuk masalah mulut kering (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *